Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Amuk Marugul Prabu Japura, Kisah Raja Cirebon Timur yang Terkubur Sejarah dan Kontroversi

Amuk Marugul Prabu Japura, Kisah Raja Cirebon Timur yang Terkubur Sejarah dan Kontroversi
Ilustrasi Prabu Amuk Marugul (Yt Bungfei)
WARTA PUSAKA - Pantai utara Jawa Barat punya sejarah panjang yang penuh lika-liku. Di wilayah ini, dulunya ada tujuh nagari atau kerajaan kecil yang memerintah. Salah satunya adalah Kerajaan Japura, yang kini dikenal sebagai Kecamatan Astanajapura, Cirebon Timur. Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Amuk Marugul, seorang tokoh dengan kisah hidup yang penuh misteri dan kerap terkesan antagonis.

Prabu Amuk Marugul: Pemimpin dengan Wilayah yang Luas

Prabu Amuk Marugul adalah raja yang memimpin Japura, menguasai wilayah yang cukup luas hingga perbatasan Jawa Tengah. Losari, Babakan, Ciledug, Waled, Karangsembung, Lemahabang, Mundu, Beber, hingga Astanajapura, semua tunduk di bawah kekuasaannya. Kisah kepemimpinan Prabu Amuk Marugul ini diyakini kuat karena adanya petilasan di Desa Astanamukti, Kecamatan Pangenan, yang merupakan makam atau pasarean sang raja.

Di area persawahan seluas 35 hektare inilah, makam Prabu Amuk Marugul dikelola oleh Darpan, juru kunci generasi ke-13. Darpan mengisahkan bahwa situs ini diyakini tempat peristirahatan terakhir sang raja setelah berperang.

Kerajaan Japura: Terpukul Dua Kali oleh Zaman

Sayangnya, keagungan Japura tak bertahan lama. Di zaman Pajajaran, kerajaan ini ditekan karena Prabu Amuk Marugul bermusuhan dengan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja). Amuk Marugul digambarkan sebagai sosok keras kepala dan penuh amarah, terutama dalam perseteruannya dengan Prabu Siliwangi terkait Nyi Subang Larang. Meski ada yang menyebutnya antagonis, beberapa kisah lokal justru menyebut bahwa Amuk Marugul mungkin raja yang bijaksana dan berani melawan kezaliman.

Perlawanan ini berlanjut di era Kesultanan Cirebon. Japura yang dulunya gemilang, harus menerima nasibnya sebagai kerajaan yang dipinggirkan, terlebih karena rakyatnya berpihak pada Syekh Siti Jenar, sosok ulama kontroversial yang dituding menentang ajaran resmi kesultanan. Maka, Japura kembali harus meredup, tak lagi dikenal sebagaimana kejayaannya dahulu.

Kenangan yang Terabaikan

Kini, nama Japura dan kisah Amuk Marugul hanya hidup lewat mulut para leluhur, salah satunya adalah Darpan, sang juru kunci. Sejak 2006, beberapa pengunjung mulai datang untuk menelusuri sejarah Japura, termasuk masyarakat dari Pulau Jawa, yang ingin mengenal masa lalu leluhur mereka.

Edi Triyono, seorang warga Banten, mengaku mendapat perintah dari orang tuanya untuk datang ke makam Prabu Amuk Marugul. "Saya diutus untuk mengenal sejarah dan mendoakan leluhur," ujarnya singkat.

Dari Misteri Sejarah ke Situs Dakwah

Tak hanya tentang kepemimpinan dan perang, Japura juga berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Japura menjadi pusat dakwah Syekh Siti Jenar, ulama dengan pemikiran yang berbeda dan kontroversial. Di Lemah Abang, Japura, Syekh Siti Jenar mendirikan pesantren yang mengajarkan Islam dengan pendekatan yang berani. Jejak ini menunjukkan bahwa Japura tak hanya soal konflik, tetapi juga kemajuan dalam hal spiritualitas dan pendidikan Islam di masa lalu.

Amuk Marugul, Tokoh yang Disalahpahami?

Layaknya Sultan Matangaji dan Ki Bagus Rangin, Prabu Amuk Marugul disebut sebagai sosok pemberontak dan "berandal" oleh kolonial Belanda serta Kesultanan Cirebon. Namun, sejatinya, ia mungkin pahlawan yang berani melawan ketidakadilan. Kisah Amuk Marugul, seperti dua tokoh lainnya, mungkin hanyalah persepsi negatif yang sengaja dibuat untuk menekan semangat perlawanan.

Walaupun cerita ini kini tersimpan di sudut-sudut cerita rakyat, situs makam Prabu Amuk Marugul tetap menjadi simbol keagungan dan keberanian seorang raja dari Japura yang pernah mengguncang tatanan penguasa.***